Untuk mewujudkan cita-citanya, Neno Warisman, mengatakan tidak terlepas dari peran kedua orang tuanya yang selalu menanamkan sikap kesederhanaan. Keluarganya, kata Neno, bukan orang kaya, tapi miskin sekali juga tidak.

Sejak kecil, Neno mengaku sudah punya beragam cita-cita. “Ganti-ganti terus, mau jadi nabi, lalu jadi dokter, jadi pesenam, jadi orang kaya, lalu jadi guru tuna rungu, jadi pengembara, jadi ibu yang hebat, jadi penulis, dst…dst…terakhir, ingin jadi hamba,” katanya.

Peran Kedua Orang Tua di Mata Neno
Neno mengungkapkan, dulu, neneknya punya tanah yang cukup luas di segitiga emas. Rumah nenek banyak didatangi orang. Ibunya adalah anak sulung yang dididik bertanggung jawab terhadap adik-adiknya yang banyak. Oleh sebab itu, setelah berkeluarga, mengurus 6 orang buah hatinya, bukan pengalaman baru buat beliau. Bagi Neno, ibu adalah orang yang paling berpengaruh dalam hidupnya, tapi bukan berarti bapaknya yang bekerja sebagai karyawan Bank tidak memiliki peran yang tak kalah pentingnya.

“Bapak orang lurus, sangat lurus, tidak pandai komunikasi. Ia mewariskan tiga hal penting untuk hidup, kejujuran, kerja keras dan berserah diri pada ALLAH secara kaffah. Bapak amat bangga pada saya karena ia sering dengar anaknya ini selalu berpihak pada orang miskin dan dhuafa. Bapak namakan saya pejuang dan sangat mendukung saya. Saya tidak pernah melihat bapak menangis, sampai suatu hari saya melihat beliau mbrebes mili dan mengungkapkan isi hatinya, bapak memberikan wasiat penting, untuk bertakzim pada rakyat. Entahlah, apakah cita-cita terakhir saya untuk jadi hamba itu sekaligus dapat memenuhi harapan bapak? Allahualam,” ujarnya bangga.

Ibu kelahiran Jakarta 21 Juni 1964 ini mengatakan, bahwa ibunya tidak mendidik dirinya dan saudara-saudaranya dengan paksaan, termasuk dalam menentukan cita-cita. Walaupun bukan sarjana, tapi ibu sangat ahli berkomunikasi. Beliau pakar berkomunikasi sehingga banyak orang yang datang meminta nasehat ini dan itu terutama sejak kami menginjak remaja. Neno menambahkan, ibunya berprinsip, mendidik anak dengan mengembangkan bakat sejak dini, dan ternyata prisip itu terbukti dalam diri Neno.

“Mama telaten menemani saya ikut kegiatan apa saja. Mulai menari, senam, teater, nyanyi, puisi…dst… Tidak tahu siapa yang mengajari mama pengetahuan itu, bahwa jika bakat dan minat anak disalurkan, dikembangkan, dia dengan cepat akan jadi bintang, dan dia dapat ketrampilan hidup jika ia kelak dewasa. Mama hebat. Karena mama demikian ngemong kepada bakat saya, maka saya pun merasa santai dalam belajar,” ungkapnya.

Ia mengakui meskipun memiliki aktifitas yang sangat banyak, namun dirinya selalu menjadi juara kelas bahkan jadi siswa teladan.

“Padahal aktifitas saya sangat luar biasa banyaknya. Saya kuliah sambil nyanyi ke seluruh nusantara, (waktu itu belum jaman laptop), mama selalu ikut dan bangun malam hari, membangunkan saya saat harus menyelesaikan makalah di mana saja kami tour atau show. Saya memang tidak diluluskan oleh jurusan saya, artinya saya tidak bergelar sarjana sebagaimana disangka banyak orang, tapi mama tetap membesarkan hati saya karena skripsi saya sebetulnya selesai juga at the last minute. Ujian kesarjanaan saya lakukan diantara kesibukan tinggi tersebut, maka bagi mama saya tetap sarjana, Ha ha ha,” jelasnya sambil tertawa.

Anak ke empat dari enam bersaudara ini menuturkan, satu-satunya “kesalahan” Neno, menurut ibunya, adalah dia memperjuangkan nasib keluarga. Untuk itu dia di diskualifikasi dan dianggap tidak layak menjadi sarjana. Dan sekarang, jika ia diminta bicara di mana-mana menyangkut banyak persoalan sosial, pendidikan, dan sedikit tentang politik atau agama, mama selalu bilang, anak mama doktor, begitu juga dengan bapak.

Kedua orang tuanya, lanjut Neno menginginkan anak-anaknya lebih dari mereka. Ada satu peristiwa besar yang tidak akan pernah dilupakan Neno, yaitu ketika bapaknya memutuskan untuk tidak bersedia dipindah-pindah sebagai syarat untuk naik pangkat, dengan alasan agar anak-anaknya dapat sekolah dengan tenang.

“Itu pengorbanan yang luar biasa untuk kami. Maka benarlah, tidak perlu kata-kata apapun juga kecuali keteladanan sikap dari orang tua pada anak-anaknya, kami sekarang mau berkorban apa saja untuk orang tua karena paham, ngerti orang tua dulu selalu berkorban untuk kami,” ceritanya dengan haru.

Seseorang yang Istimewa di Kampus
Pendidikan formal ia lalui dari TK SD Tunas Harapan, SMP negeri 82, SMA Tarakanita I dan Kuliah Universitas Indonesia, sastra Prancis. Neno pernah mengalami kegamangan antara mengejar pendidikan formal atau mengembangan bakat meski selalu dimusuhi bahkan sedikit disingkirkan.Tapi Neno merasakan, kasih sayang Allah SWT tidak pernah meninggalkannya, dalam keadaan harus berjuang memenangkan dua pertandingan itu, datanglah seorang yang istimewa buat Neno.

Seorang itu tidak pernah menganggap dirinya bodoh, baginya beliau adalah seorang manusia besar dan ilmuwan tulen, seorang pembelajar yang luar biasa. Sikap beliau pada mahasiswa yang bekerja seperti dirinya, benar-benar memberi rasa nyaman. Beliau tidak menempatkan dirinya menjadi terdakwa dan bodoh, seperti yang sering Neno rasakan dari sikap kebanyakan dosen dan pengajar semasa kuliah.

“Saya kagum habis-habisan padanya. Dia membiarkan saya tertidur di kursi kuliahnya karena sangat faham saya mungkin datang dari Kalimantan, Sulawesi, atau daerah tempat saya show malam harinya. Selama masa kuliah, keharusan absensi penuh 90 persen membuat saya harus gila-gilaan, meski sekedar duduk di ruang kelas pagi harinya dan siang harinya naik pesawat lagi, terbang ke daerah lain lagi…, besok dan besoknya begitu lagi. Apalagi kalau ada ujian akhir atau tengah semester yang berbarengan dengan jadwal show yang tidak bisa saya batalkan. Pada tahun-tahun itu saya memang sedang mengumpulkan uang untuk beberapa keperluan mendasar untuk keluarga besar kami,” tuturnya.

Bercermin Pada Nabi dalam Berkiprah di Dunia Pendidikan
Setelah berhenti dari dunia tarik suara dan sinetron, Neno memilih berkhidmat pada masyarakat. Terutama anak-anak, terutama anak usia dini, sejalan dengan tumbuh kembang ketiga anaknya. Neno sendiri cukup lama menimba ilmu di Yayasan Kita dan Buah Hati dibawah asuhan Ibu Elly Risman Musa yang banyak mewariskan ilmu tentang pengasuhan/parenting.

Sampai hari ini dua hal itu yang menjadi minat dirinya untuk beraktifitas di Neno Education and Care dan sebuah yayasan tempat saya berkumpul lagi dengan Ibu Elly serta seorang sahabat kami yang menjadi konseptor unggul dari banyak produk pengabdian masyarakat, Sutan I.Rinaldi, namanya. Kami bawa Yayasan SAHABAT ANAK INDONESIA (SAI) ini menjadi sebuah lembaga untuk menghasilkan “Student Profile” anak bangsa yang bahagia dan selamat dunia akhirat.

Neno menjelaskan, alasannya memilih bidang pendidikan adalah karena fitrah. Tanpa terasa sudah 12 tahun ia tekuni aktifitasnya itu. Ketika ditanya adakah keinginan dirinya untuk bermain sinetron dan bernyanyi kembali, Neno mengatakan poinnya sekarang bukan ingin atau tidak, melainkan perlu dan bermanfaatkah untuk ummat. Neno menegaskan, dirinya bukan lulusan dari jenjang tinggi bidang pendidikan, tapi Ia berguru kepada banyak pakar dan ahli, berusaha banyak baca, berusaha terus menerus menggali dari dalam diri dan nuraninya sendiri.

Ada beberapa hal yang selama ini ia dengar dan renungi, antara lain persoalan orientasi. Ini kaitannnya dengan hakikat mendidik itu sendiri. Manusia beda dengan binatang. Manusia diberi kelebihan sebagai master piece, ciptaan unggulan Allah. Kelebihan itu merupakan suatu komposisi yang harmonis dari tiga unsur, badan/raga, otak/akalnya dan jiwa/ruhaninya.

Dalam menjalankan aktifitasnya sebagai pendidik, Neno selalu berusaha meneladani Nabi Muhammad SAW yang menitik beratkan bukan pada pencapaian materi atau ilmu lebih dahulu, melainkan pendidikan yang mendahulukan kesejahteraan/keselamatan ruhani/iman sebagai panglimanya. Hasil didikan jaman itu, kata Neno bisa terlihat dari orang-orangnya yang secara duniawi sangat mapan, canggih, tetapi mereka bertaqwa penuh pada Allah SWT. Allah adalah segala-galanya.

Beda sekali dengan sistem pendididian (baca: sekolah) sekarang. Yang dikejar adalah angka. Ini melahirkan banyak kepalsuan dan kemunafikan. Yang dikejar adalah titel kesarjanaan sehingga yang dihasilkan adalah pengangguran dan tindak kriminalitas kerah putih yang dahsyat. Yang dituju adalah dunia. Maka benar firman Allah, kalau tujuan kamu dunia, yang kamu dapat celaka. Tapi tujukan pada dunia dan akhir, pasti akan mendapat kebahagiaan dan keselamatan.

Dengan pola yang dilakukan secara nasional seperti sekarang ini, Neno menilai dampaknya sangat banyak. Yang paling kentara adalah rendahnya SDM atau SDI (sumber daya Insani) kita. Semua itu tidak akan terjadi kalau sejak seorang anak bersentuhan dengan sarana dan prasarana pendidikannya (baik di rumah, sekolah maupun lingkungan), pihak orang tua, pendidik di sekolah/ institusi serta masyarakat (pemerintah, penguasa, dan masyarakat umumnya) memiliki STUDENT PROFILE yang melibatkan tujuan Allah SWT menciptakan manusia.

Manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Kalau lulus S3 ternyata yang ada di batok kepalanya yang hebat itu hanyalah dunia saja, maka gagallah tujuan penciptaannya. Pendidikan berhasil hanya sebatas dunia saja dan itu bertentangan dengan keinginan Sang Pencipta. Jadi, benarlah Diknas hari ini mengunggulkan program anak usia dini/ anak dini usia karena mendidik manusia itu selayaknya dari mata air yang paling jernih. Ini sesuai dengan yang Nabi dan para Salafus shaleh lakukan.

Nabi mendidik dengan memberikan rasa aman dan nyaman, jadi kenapa di sekolah ada sederet panjang kurikulum yang dituhankan dan menjadi beban serta menganiaya (abuse) harga diri dan otak anak-anak. Kenapa sistem ranking dan akselerasi dianggap memberdayakan sementara jutaan anak-anak terpenggal bakat dan minatnya karena sistem penyeragaman telah meremukkan potensi dahsyat setiap anak.

Anak Adalah Sahabat Sejati bagi Neno
Neno kini memiliki tiga orang anak, Giffari 11 tahun, Maghfira 9 tahun 5 bulan dan Raudya 8 tahun. Menurut Neno, keluarga sakinah adalah keluarga yang di dalamnya ada rasa nyaman bagi seluruh anggota keluarga, di mana di dalamnya ada laki laki terbaik yang dikatakan Nabi, yaitu ia yang paling santun pada ahlinya, istri dan anak serta memenuhi kewajibannya sebagai wali/pemimpin bukan hanya dalam nafkah lahir, tetapi memenuhi kebutuhan rasa bahagia semua anggota dikeluarga.

Ada wanita terbaik, yaitu wanita yang lebih mahal dari langit dan bumi yang boleh masuk surga dari pintu mana saja. Yiatu wanita yang taat pada suami karena Allah dan menjaga amanah suaminya karena Allah dan lebih mencintai Allah dan rasulnya dari apapun juga. Dan ada anak-anak yang merasa aman dan nyaman karena hak pertama mereka diberikan: yaitu memiliki ayah dan Ibu yang takut hanya pada ALLAH dan mengajak mereka untuk selalu menjaga hak – hak Allah dengan ihsan dan rela.

Rumah tersebut bukan rumah penuh hiasan mahal bermilyar. Semua itu tidak ada artinya jika di dalamnya tidak ada kesepakatan menjadikan rumah tersebut sebagai rumah perjuangan, rumah yang di dalamnya setiap orang membiasakan diri untuk melakukan aktifitas apapun dalam kerangka berjuang di jalan Allah.

Bercerita tentang cara dirinya berbagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, Neno mengatakan sekarang dirinya lebih banyak menyelenggarakan kegiatan dari rumah, kecuali pertemuan yang tidak bisa dihindarkan. Pada hari Sabtu dan Ahad, ia sangat pelit kepada aktifitas di luar rumah.

Untuk selalu berkomunikasi dengan anak, Neno mengaku tidak pernah mengalami kesulitan sebab sejak awal, dirinya amat sangat terbuka dan transparan terhadap anak-anaknya. Anak-anak adalah furqan. Mereka suci bersih, mereka adalah kaca terbaik. Bahkan ia selalu minta diberi masukan untuk perbaikan secara rutin, karena anak-anak adalah sahabat sejati.

Santai tapi sungguh-sungguh, itulah gaya Neno mendidik anak-anaknya, namun dalam momen yang tepat kalau ada kesempatan untuk merebut the golden opportunity biasanya ia katakan, kira-kira seperti ini, “Aku, ibumu, adalah orang di dunia ini yang paling mencintaimu dan tidak ada orang lain yang lebih dari aku dalam hal ini. Tetapi Allah lebih mencintaimu dari aku. Dan kalian/kau pun mencintaiku tapi ada yang lebih baik cintanya yaitu cinta Allah padaku. Dan tidak ada yang lebih mencintai kita, siapapun saja, kecuali Allah. Dan Kitapun mencintai Allah dan Rasul lebih dari apapun, lebih dari siapapun.”

Setiap hari bahkan di setiap pertemuan Neno dengan anak-anaknya selalu diisi dengan diskusi. Neno menegaskan dalam meraih cita-citanya, ia selalu menekankan pada anak-anaknya, bahwa tidak penting ranking yang penting senang belajar. Nilai tidak terlalu penting, tapi yang penting rela menegakkan shalat terutama yang lima. “Dan tidak ada ilmu yang lebih hebat dan lebih harus kita kejar daripada Al-quran,” tegasnya.

Hari libur selalu Neno manfaatkan bersama anak-anaknya, misalnya di rumah saja, gelar tikar di lapangan menghibur keluarga, atau berkunjung ke teman yang terbatas, atau sekedar naik kereta api. Tempat berlibur yang paling favorit adalah rumah, karena bila di rumah dirinya bisa lebih akrab, bercanda, mengambil pelajaran dari percakapan atau kejadian. Jadi selalu ada liburan tiap hari. Makanan yang paling Neno sukai adalah makanan yang agak pedas, tapi tidak berbau terasi, petai dan sebagainya.

About these ads