Memilih istri yang baik adalah perkara yang penting. Tidak ada seorang manusia pun yang berselisih mengenai hal ini. Akan tetapi yang diperselisihkan adalah, bagaimana pilihan itu dikategorikan baik, apakah berdasar pada harta, keturunan, kecantikan ataukah agama? Maka penasihat yang terpercaya, yaitu Nabi kita tercinta menjawab :

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal: (1) Hartanya, (2) nasab (keturunan)-nya, (3) kecantikannya dan (4) agamanya. Maka pilihlah yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.”

(Riwayat Bukhari)

Ketahuilah, sebaik-baik wanita adalah wanita yang shalihah, sebagaimana dalam sabda Nabi,

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah.”

(Riwayat Muslim)

Wanita shalihah adalah wanita yang menyenangkan hati bagi suaminya, senantiasa mengajak untuk berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan serta memotivasi suaminya untuk beribadah dan sabar di dalam segala keadaan.

Rasululah saw bersabda,

“Sebaik-baik wanita adalah yang jika engkau melihatnya akan senang, jika engkau memerintahkannya ia akan mentaatimu, jika engkau memberinya maka ia akan berterima kasih dan jika engkau tidak ada di sisinya,maka ia akan menjagamu dan hartamu.”

(Riwayat Nasa’i)

Memilih pria sama dengan kriteria memilih wanita. Hendaknya agama dan keshalihanlah yang diprioritaskan. Seorang suami yang baik adalah yang ramah, bertanggung jawab, bisa membimbing isterinya, senantiasa mengajak kepada kebajikan dan melarang dari kemungkaran, selalu menasehati di dalam kebaikan dan kesabaran, penyabar dan mampu memimpin keluarganya kepada kebaikan.

Oleh karena itulah Nabi saw mewasiatkan kepada para wali atau orang tua wanita, “Jika datang (melamar) kepadamu orang yang engkau senangi agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan putrimu). Jika kamu tidak menerima (lamaran)-nya niscaya terjadi malapetaka di bumi dan kerusakan yang luas.” (Riwayat Tirmidzi)